OGANILIR KritisIndonesia.COM,-Geliat Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Ilir ternyata memang terbukti ada pembinaan terhadap petani di setiap kecamatan seperti di kecamatan pemulutan selatan kecamatan pemulutan yang sempat ditandangi kritisindonesia.com di lokasi petani masing masing. 

Untuk meningkatkan produksi pertanian agar menuju swasembada berkelanjutan para petani banyak memiliki kendala seperti saat ini musim kering para petani membutuhkan air untuk petak sawah mereka agar bisa tanam kembali, selain itu juga para petani sangat membutuhkan alat pertanian seperti tractors roda empat chombin hand tractors mesin penyedot air mesin tanam padi dan sumur bor serta normalisasi sungai dan pembebasan sungai dari lelang lebak lebung yang dekat dengan persawahan para petani.

Petani Milenial yang sekaligus penggerak petani yang sempat ditandangi kritisindonesia.com seperti Suhaimi Ketua UPJA Jaya Makmur yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Karya Tani menjelaskan, untuk meningkatkan hasil produksi para petani sebenarnya tidaklah sulit asal pemerintah harus terus berkelanjutan untuk memperhatikan petani.”ucapnya”.

Nah seperti saat ini kami sedang menggarap lahan persawahan yang kering, artinya disini pemerintah melalui dinas terkait harus memikirkan kami, lahan kering yang kami garap ini membutuhkan air untuk lahan ume atau sawah kami disinilah pemerintah harus hadir, artinya kami butuh bantuan dari pemerintah seperti sumur bor mesin sedot air dan alat pertanian lainnya juga kami sangat membutuhkan seperti tractors roda empat chombin  mesin tanam padi.

Kami juga mengharapkan kepada Bapak Bupati OI agar Pemkab membeli lahan pertanian agar menjadi aset pemkab karna lahan pertanian sekarang ini sudah hampir habis dikuasai orang orang pemilik modal seperti saat ini hampir dikuasai buyung semua.

Kami petani ini banyak mengolah ume atau sawah tersebut dengan menyewa dengan pemilik tanah persawahan, sewa lahan 1 Ha dengan harga 6 juta permusim belum lagi ditambah garap lahan totalnya lebih kurang 15 juta permusim yang harus kami keluarkan itupun belum tau hasil maksimalnya.”ungkap suhai panggilan sehari harinya petani milinial dari desa sungai keli kecamatan pemulutan selatan.”

Sedangkan David Saputra petani milinial desa sungai lebung dari kelompok tani gapoktan permata mengungkapkan, kami terdiri dari 16 kelompok sedangkan untuk IP 200 tahun 2021 ini kami baru menggarap lebih kurang 20-50 Ha dan untuk tahun selanjutnya akan kami garap seluruhnya jangkauan desa sungai lebung ini.

Sekarang baru tergarap 20 Ha dan kami juga mengucapkan terimakasih kepada pak bupati sudah melaksanakan normalisasi sungai, dan khusus yang dekat normalisasi sungai diharapkan hasil persawahannya akan meningkat tapi yang jauh dari jangkauan sungai disini kami mengharapkan bantuan berupa sumur bor karna sulit jangkauan dari sungai untuk mengaliri persawahannya diseluruh kelompok tani di sungai lebung ini.

Ya benar banyak petani yang ada disini menyewa alat alat pertanian dari luar ogan ilir, karna ini diakibatkan minimnya alat pertanian seperti chomben dan didesa tidak ada alat bantuan tersebut. Sekali lagi kami berharap kepada pak bupati agar bantu kami alat pertanian seperti chomben kalau bisa setiap desa ada satu unit

Harapan kami juga nantinya bisa mengalokasikan dana desa untuk pembuatan sumur bor seperti di desa suka maju kecamatan rantau alai untuk membantu petani. Ya harapan kami juga Pemerintah desa juga harus perhatikan juga dengan para petani.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada bapak bupati melalui dinas pertanian yang telah membantu memberikan tractors roda empat sehingga kami bisa membuka lahan dan besar harapan kami kedepan terus membantu kami sehingga bisa menopang aset perekonomian rakyat disini dan kabupaten ogan ilir lumbung pangan yang berkelanjutan.”ungkap david”.

Suparman Ketua Gapoktan Desa Sembadak Kecamatan Pemulutan menjelaskan, lahan basah persawahan yang saya garap ini untuk penanaman bibit infari IP 200 dan lahan yang kami garap ini adalah swadaya dan coba coba menerapkan IP 200, tapi disini kami terkendala peralatan pertanian dan kelengkapannya.

Mulai dari sistim pengairan sungai sungai mulai dangkal pintu airnya pun sudah rusak semua, kalaupun sungai yang dangkal tersebut akan dinormalisasi kami tetap memerlukan alat pertanian seperti pompa air karna debit air tidak bisa menjangkau lahan yang jauh dari sumber air.

Untuk masalah pengelolaan lahan juga kami membutuhkan hand tractors, sekarangpun kami sudah garap tapi ini kami pakai masih sistim sewa. Jadi yang kami sangat butuhkan dari pemerintah yang jelas alat alat pertanian untuk menggarap lahan kami dan kami bisa mencontohkan ini bisa berhasil.

Akan memudahkan kami jika bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah mulai dari mesin pompa hand tractors roda dua tractors roda empat sekaligus mesin tanam, karna melihat kondisi seperti ini kayaknya layak sekali kalau ditanam sayang kalau kita gunakan dengan sistim tabur.

Keseluruhan desa sembadak lahannya 234 Ha, namun untuk sementara karna kami masih bentuk swadaya jadi masih semampu kami tapi diperkirakan baru 45-50 persen yang tergarap dari 234 Ha tersebut.

Kemungkinan kalau ini ada hasilnya, alatnya pun tidak menutup kemungkinan seluruh dalam desa sembadak bisa tergarap semua, dan saya berani menjamin kalau pak bupati ogan ilir melalui dinas pertanian bisa membatu kami alat pertanian tersebut akan berhasil meningkatkan hasil produksi pertanian yang ada di desa sembadak kecamatan pemulutan.

Sementara Ketua Gapoktan Desa Ibul Besar I Kecamatan Pemulutan Adil Anuar mengatakan, ini pembibitan untuk IP 200 yang menggunakan media kotak kotak plastik tanpa menggunakan lahan tanah cukup padi dihamparkan dalam wadah tersebut dan disiram lalu ditutup dengan terpal lebih kurang 12-15 hari sudah siap untuk ditanam disawah menggunakan mesin tanam.”ujarnya”.

Bibit padi yang kita semai ini lebih kurang 90 kg untuk 2 Ha lahan persawahan, untuk IP 200 didesa kita ini sudah berjalan 3 tahun dan kalau untuk hasilnya tergantung dengan alam dan alat.

Hambatan kita untuk IP 200 ini adalah alat pertanian seperti tractors roda empat hand tractors kita tidak ada dan pompa kita kekurangan.
Harapan kami kepada pemerintah tidak lain hanya peralatan pertanian mulai tractors roda empat hand tractors pompa air mesin tanam memang sudah ada tapi belum sepenuhnya cukup baru sekitar separoh lah dari 13 kelompok.

Ya kalau pak bupati melalui dinas pertanian membantu alat tersebut jelas meningkat hasil produksi pertanian itu pak dan saya siap bertanggungjawab hasilnya pasti meningkat.

Kalau alat pertanian cukup kami pasti mudah, yang pertama mendukung alat pertanian sudah itu kalau masalah pupuk itu suda ada sekarang ini pengecernya dan itu juga tergantung dengan musyawarahnya, ya yang paling penting peralatan pertanian itu kalau petani itu sudah lama niat kepengen mau berubah.
Untuk capaian IP 200 ini, dulu sudah pernah ratusan hektar waktu dipinjami alat kemudian ditarik orang alat tersebut ditarik dinas pertanian sampai sekarang ini belum dapat lagi, ya masalah utama pertani adalah alat pertanian.

Untuk saat ini hasil yang normal 5 ton tapi ada yang belum makai alat hanya dapat 1-2 ton per hektarnya. Harapan kedepan kami hanya minta bantu alat pertanian mulai dari hand tractors roda dua tractors roda empat pompa air dan mesin tanam.

Keunggulan mesin tanam dibandingkan kita menggunakan manual adalah banyak sekali yang pertama waktunya sangat cepat dan biaya sangat ringan.Kalau kita nyemai menggunakan mesin tanam ini jaraknya hanya 12 hari sudah bisa tanam tapi kalau nyemai model manual jaman dulu satu bulan belum bisa tanam kalau sekarang cukup 12-15 hari sudah bisa tanam asal lahannya sudah siap.

Kalau kita menggunakan mesin tanam per hektar itu biayanya hanya Rp.300 ribu dan kalau kita pakai cara manual biayanya Rp.1,8 juta, jadi sangat jauh selesih biayanya yang digunakan dan waktu juga hemat serta hasilnya jauh meningkat 25 persen dari yang manual.”ungkap pak Adil.”(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here